LARANTUKA

Larantuka - Kota Reinha

  • Beranda
  • BERITA
  • OPINI
  • PARIWISATA
  • Translate
Home → Semua Post Berkategori LARANTUKA
Tampilkan postingan dengan label LARANTUKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LARANTUKA. Tampilkan semua postingan

Bupati Flotim Terlibat Pungli 1 Juta/Desa ?

Add Comment
13.42

Bupati Flotim Terlibat Pungli 1 Juta/Desa ?

Larantuka - Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GERTAK) Flores Timur, kembali menyambangi Kejari Larantuka pada Jumat (25/10/2013) untuk menyampaikan informasi tambahan yang memuat keterangan dari saksi petunjuk dalam kasus dugaan pungutan liar (pungli) Rp. 1 juta/desa. Dugaan pungutan dengan tersangka Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Flores Timur Ramly Lamanepa, S.Sos, dalam waktu dekat akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang.

Informasi tambahan yang tertuang dalam surat bernomor 11/GERTAK-FLOTIM/X/2013 diserahkan langsung oleh Koordinator Gertak Flotim Yohanes Kanisius Ratu Soge kepada Dony staf pada seksi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Larantuka. Ratu Soge yang menghubungi wartwan dari Larantuka menyebutkan, informasi tambahan yang Gertak sodorkan ke Kejari Larantuka berupa keterangan dari Saudara Ajis Begu Tokan yang kini berdomisili di Jakarta. Kepada Gertak, Ajis Begu menerangkan bahwa menurut pengakuan langsung Simon Soge yang kesehariannya menjabat sebagai Kepala Sub Bagian (Kasubag) Keuangan pada BPMPD Kab. Flotim bahwa Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos yang memerintahkan Simon Soge untuk membawa uang yang dipungut dari desa-desa ke Jakarta.

“Hal mana saudara Ajis Begu Tokan menyampaikan keterangan kepada kami berdasarkan pengakuan saudara Simon Soge bahwa keseluruhan uang pungutan telah dibawahnya ke Jakarta atas perintah Bupati Flotim. Uang tersebut telah diserahkan oleh saudara Simon kepada seseorang yang tidak ia kenal untuk kepentingan biaya pembuatan proposal dan upaya – upaya untuk memperlancar urusan kedalam atau loby,” tegas Ratu Soge.

Ia mengatakan, keterangan dari saudara Azis Begu dapat dijadikan sebagai saksi petunjuk untuk menelusuri keterlibatan Bupati Flotim dalam kasus dugaan pungli Rp. 1 Juta/desa dan mengungkap kemana aliran uang yang dipungut dari desa-desa di Flotim sampai ke oknum-oknum tertentu di Jakarta. Menurut Ratu Soge, Ajis Begu dapat dijadikan sebagai saksi petunjuk bagi pihak Kejari Larantuka untuk dapat memeriksa Simon Soge — Kasubag Keuangan pada BPMD PD Flotim sebagai saksi yang sesungguhnya dalam dugaan pungli di Flotim.

“Bahkan Ajis Begu pun siap diperiksa oleh pihak Kejari untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait pengakuan Simon Soge kepadanya. Oleh karena itu berdasarkan informasi Gertak, kami mendesak Kejari Larantuka untuk memanggil Ajis Begu dan Simon Soge untuk diperiksa masing-masing sebagai saksi, sehingga kemana aliran uang pungli dapat diungkap secara terang benderang, selain itu juga penting bagi pihak Kejari dalam mengungkap aktor dibalik dugaan pungli serta membongkar sindikat praktek uang beli uang dari Flotim hingga ke Jakarta”, ujar Ratu Soge.

Ditambahkannya, hal yang patut dipertanyakan juga ialah sumber dana pengembalian uang yang telah di pungut ke masing-masing desa. Uang hasil pungutan telah diserahkan kepada pihak pembuat proposal. Dengan demikian, maka patut dipertanyakan ketika telah terjadi adanya pengembalian uang kepada desa – desa yang dipungutn dari manakah uang yang dimanfaatkan untuk pengembalian itu. Ratu Soge menduga, uang pengembalian itu diambil dari APBD Kabupaten Flores Timur.

“Dalam kasus ini, Gertak menilai telah terjadi penyuapan untuk mendapatkan jawaban atas proposal itu. Gertak akan terus memantau respon pihak Kejari sejak menerima informasi tambahan yang diberikan, mengingat penanganan kasus pungli ini sudah berulang tahun baru mau dilimpahkan ke pengadilan Tipikor Kupang. Mengingat saksi merupakan salah satu aspek yang sangat penting mengungkap sebuah kasus secara terang benderang, maka kami sangat mengharapkan pihak Kejari untuk lebih pro aktif memeriksa atau meminta keterangan saudara Ajis Begu sebagai saksi petunjuk, dalam penuntasan kasus pungli” tukas Ratu Soge.

Asal tahu saja, kasus pungutan liar Rp 1 juta rupiah perdesa di Flotim mulai mencuat ke permukaan, sejak Gertak melaporkan ke Kejari Larantuka pada bulan Agustus 2012 lalu. Sekitar sebulan yang lalu pihak Kejari Larantuka telah menetapkan Kepala BPMD Ramli Lamanepa sebagai tersangka. Belum lama ini, Kajati NTT Mangihut Sinaga, S.H memerintahkan Kejari Larantuka untuk memeriksa Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos dan memerintahkan Kejari Larantuka untuk segera melimpahkan kasus dugaan pungli tersebut ke Pengadilan Tipikor Kupang.(savanaparadise)

Tebar Cinta Di Larantuka

Add Comment
22.01

Tebar Cinta Di Larantuka

Larantuka - Pengalamanya sebagai kepala keluarga membentuk rasa solidaritas di dalam dirinya.Rasa itu pula yang memacu dia untuk menjadikan rekan-rekan senasibnya sebagai manusia berdaya.

Suatu hari di Larantuka, NTT. Sebuah rumah dipadati oleh puluhan perempuan, tua dan muda. Mereka tengah berdoa dengan melantunkan kidung-kidung pujian. Tak lama kemudian, acara doa itu pun usai. Beberapa perempuan setengah baya menghampiri seorang perempuan berjilbab. Memeluk dan membanjiri dia dengan doa-doa penuh kasih. Diantara mereka bahkan ada yang menangis haru kala melakukannya.

Nani Zulminarni tak mungkin melupakan peristiwa hampir sepuluh tahun silam itu. Sebagai seorang muslimah, dirinya merasa kaget bercampur haru.Pikirnya, bagaimana bisa mereka mau merayakan ulang tahunnyanya sekaligus mendoakan secara tulus seseorang yang secara formal berbeda keyakinan dengan mereka? "Tapi itu terjadi, dan saya sadar secara batin kami telah diikat dalam sebuah bentuk persaudaraan yang melampau batas agama dan etnik,"ujar perempuan kelahiran Ketapang, 10 September 1962 itu.

Rasa persaudaraan yang disebarkan oleh Nani berawal dari suatu tawaran di tahun 2000. Saat itu, seorang rekannya di Komisi Nasional Hak Asasi Perempuan (Komnas Perempuan), meminta tolong kepada dia untuk mendokumentasikan kehidupan para janda korban konflik di seluruh Indonesia. Tapi tidak serta merta Nani menerima permintaan itu. Dia malah berpikir,"Kenapa hanya sekadar mendokumentasikan? Tidak lebih baikkah kalau mereka sekaligus diberdayakan?"

Sebelum mengiyakan permintaan itu, Nani memutuskan untuk turun langsung terlebih dahulu ke beberapa daerah konflik.Di Aceh, Maluku dan Kalimantan Barat,Nani melihat kenyataan para janda korban konflik hidup dalam penderitaan yang berlipat ganda. Selain harus melawan stigma sosial sebagai janda, mereka juga harus menghidupi anak-anaknya,"Belum masalah menghadapi trauma psikologis akibat pembantaian suami-suami mereka."

Nani sadar akan penderitaan mereka. Sebagai seorang yang baru ditinggal suami, dia pun dapat merasakan beratnya perjuangan mereka mengurus keluarga. "Saya yang memiliki posisi agak baik dibanding mereka saja, merasa begitu berat secara psikologis, hukum dan sosial, apalagi mereka"kata ibu dari tiga orang putera itu.

Hampir di setiap kawasan, Nani menemukan masyarakat selalu menempatkan janda dalam posisi yang sulit. Kontruksi sosial selalu mengaitkan para janda hanya dengan status pernikahan dan nilai-nilai.Sedang posisi mereka yang menjadi pengganti suami dalam menghidupi keluarga malah justru ternafikan."Secara sosial, mereka tidak diakui sebagai kepala keluarga,kendati tiap hari mereka bekerja cari kayu bakar ke hutan dan melaut untuk menghidupi keluarganya,"ujar lulusan Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Itulah yang membuat Nani memutuskan untuk mengganti istilah "janda" dengan pekka atau perempuan kepala keluarga.Istilah itu diambil Nani dari versi bahasa Inggris "female headed house hold"."Saya pikir istilah itu 'lebih manusiawi" mengingat istilah janda sudah terlanjur berlumur tinta hitam,susah sekali untuk membersihkannya,"tulis Nani dalam Jejak Air, sebuah buku biografi politiknya.

Tidak hanya berwacana, pada Desember 2001 Nani meluncurkan sebuah program. Dia memberinya nama Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga atau disingkat Program Pekka.Hingga saat ini Program Pekka sudah mengkoordinasi sekitar 10.000 rumah tangga di 8 provinsi.

Bentuk kegiatan Program Pekka meliputi berbagai hal. Mulai dari pemberdayaan ekonomi para perempuan kepala keluarga hingga perajutan kembali hubungan sosial di antara para perempuan korban konflik. Caranya antara lain dengan, "Kami membentuk unit-unit usaha, membentuk koperasi dan menjalankan unit simpan pinjam," ungkap Koordinator Nasional Program Pekka tersebut.

Semua aktifitas itu menjadikan para perempuan kepala keluarga menjadi berdaya di masyarakat. Mereka tidak harus tergantung lagi kepada rasa belas kasihan.Otomatis rasa percaya diri pun bertambah. Karena terbiasa diskusi, beberapa perempuan kepala keluarga malah menjadi tokoh di lingkungan masyarakatnya. Bahkan di sebuah desa di NTT, seorang perempuan yang aktif di Program Pekka dipercaya masyarakat untuk memangku jabatan Kepala Desa.

Kendati sudah bisa dikatakan berhasil, tidak berarti Nani berpuas diri. Bersama 32 tenaga lapangannya, tak jarang dia masih terjun langsung ke daerah. Menurutnya, ada sebentuk kepuasan spiritual jika dia bertemu dan bisa bertukar pandangan dengan sesama perempuan kepala keluarga."Kami memang sudah seperti saudara yang saling menyintai,"katanya.

Ya, cinta memang telah menyatukan semua. Atas namanya, ribuan perempuan dari ujung Barat hingga Timur merajut sebuah persaudaraan yang indah. Tanpa kecurigaan, tanpa rasa benci. Tanpa batas suku, tanpa batas agama. Seperti yang ditebarkan Nani dan para perempuan Katholik itu di Larantuka. ( islamindonesia )

Ingat Jangan Klaim - Tolak DOB Usulan Adonara

Add Comment
07.46
ingat jangan klaim, tolak dob adonara, adonara

Ingat Jangan Klaim - Tolak DOB Usulan Adonara

Larantuka - Masih dalam Topik Tolak Usulan DOB Adonara, Christo Kabelen mengatakan dalam akun Face Booknya, Dalam hasil kajian studi kelayakan dari UGM yang telah dilakukan, dikatakan bahwa, "Secara prosedural, proses pengusulan pembentukan Kabupaten Adonara masih menggunakan PP Pemekaran lama, PP No. 129/2000, yang menggunakan indikator aspirasi berupa dukungan ormas, individu, dan panitia pembentukan. Dalam dokumen usulan pemekaran Adonara pun, aspirasi masyarakat direpresentasikan oleh keberadaan Forum Komunikasi Pembentukan Adonara Kabupaten (FPArK) dan sejumlah dokumen tanda tangan individu yang DIKLAIM sebagai bentuk dukungan. Dengan menggunakan ukuran PP 78, dokumen dukungan tersebut tentu saja tidak memenuhi kriteria, dan oleh karenanya masyarakat dan para pejuang pemekaran Adonara harus kembali berkonsolidasi untuk mewujudkan mimpi mereka menjadi kabupaten tersendiri dengan menggelar forum-forum musyawarah di semua desa yang kelak menjadi calon wilayah kabupaten baru."

Kalau Forum Kelompok Diskusi Satu Lamaholot menolak DOB KA maka tidak asal tolak. Kami menolak karena berdasarkan hasil kajian yang sudah ada dan yang telah dipublikasikan dan hasil diskusi kami. So, masyarakat mana yang merindukan DOB KA? Jangan sampe mengklaim lagi lah. Bisa-bisa toran yang muda po mengklaim diri sebagai orang tua. Ataukah para orang tua harus diingatkan lagi bagaimana dengan masa muda mereka. Takutnya para orang tua tidak pernah mengalami masa muda

Oleh karena itu, saran dari hasil kajian studi kelayakan yang sudah ada ini harus ditindak lanjuti. Biar semua masyarakat Adonara yg berada di Adonara dan masyarakat Adonara diaspora bisa tahu kerja dari para pengKLAIM!!! ( Flores Blog Community )

Forum Satu Lamaholot Tolak Usulan DOB Adonara

Add Comment
07.04

Forum Satu Lamaholot Tolak Usulan DOB Adonara

Larantuka - Forum Satu Lamaholot adalah Forum Pemuda dan Mahasiswa di pulau Jawa, Menurut Forum yang di ketuai Christo Kabelen ini,Usulan untuk meningkatkan status Adonara menjadi salah satu Daerah Otonomi Baru (DOB) bukanlah  solusi yang tepat untuk menjawabi permasalahan yang dihadapi masyarakat Adonara saat ini. Karena itu selain menolak DOB Adonara, DPR dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) diminta untuk tidak menindaklanjuti usulan DOB Adonara persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat Adonara saat ini, baik yang terlihat maupun yang belum terlihat, belum diselesaikan dan diketahui secara pasti.

“Kajian kelayakan Adonara sebagai daerah otonom yang telah dilakukan, hanya sebatas menjawab layak atau tidak layaknya Adonara sebagai daerah otonom, tanpa mengetahui dan mengkaji kebutuhan apa yang sedang dinantikan oleh masyarakat Adonara,” demikian yang tertulis dalam siaran pers.

Masih menurut siaran pers, Forum Satu Lamaholot menilai wacana soal Daerah Otonomi Baru Kabupaten Adonara, selalu saja dimunculkan dan menjadi bahan jualan menjelang momentum politik tertentu, karena itu terhadap DOB Adonara masih dibutuhkan kajian lanjutan yang lebih objektif, ilmiah, dan independen.(fbc)

Masyarakat Flores Timur Minta BNP2TKI Perangi Calo TKI

20.22

Masyarakat Flores Timur Minta BNP2TKI Perangi Calo TKI


Larantuka - Masyarakat Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), meminta Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) terus meningkatkan perannya dalam memerangi praktik percaloan TKI.

Permintaan itu di antaranya dikemukakan Harun Laude, 53; Burhan Mansur, 61 tahun, Yuliana Ida Kolin dan Kepala Desa Lowohedo, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur Andreas Dosikahah. Mereka mengungkapkannya dalam Temu Wicara masyarakat NTT dengan Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat di Kantor Kecamatan Solor Timur, Rabu (25/9).

Harun Laude menuturkan, ia pergi ke Malaysia pada tahun 1980 tanpa bekal dokumen resmi ketenagakerjaan. Berangkat dari Pelabuhan Larantuka di Kabupaten Flores Timur, menuju Parepare di Sulawesi Selatan lima hari perjalanan laut. Dari Parepare ke Nunukan di Kalimantan Timur, tiga hari perjalanan laut. Dari Nunukan kemudian menyeberang ke Tawau, Sabah, Malaysia, dengan naik kapal kurang lebih dua jam.

"Setibanya di Tawau kami diterima 'pengurus' (yakni calo TKI). Oleh calo TKI itu kami disalurkan bekerja di perkebunan. Selama bekerja hanya dikasih makan tanpa gaji, setiapkali menanyakan soal gaji pengguna selalu mengatakan tenaga kerja tidak berdokumen tidak ada gaji," ungkap Harun dalam surat elektronik yang diterima. Kejadian seperti itu dia jalani kurang lebih tiga tahun (1980 - 1983) bersama 34 TKI lainnya.

"Bagi kami serba dilema, mau pulang ke kampung halaman tidak ada biaya. Sementara biaya yang dipakai pada saat pergi dari hasil jual barang-barang dan uang pinjaman," ungkapnya.

Pengalaman lain dikemukakan Burhan Mansur. Ia mengaku 27 tahun menjadi TKI di Malaysia. Pergi ke Malaysia hanya berbekal Paspor. Namun demikian untuk mengurus paspor di Kupang sudah "dimakan" oknum petugas imigrasi.

"Ini fakta yang ada di depan mata kita,  untuk menjadi TKI resmi sedari tanah air saja sudah susah, lokasi urus Paspor dan dokumen ketenagakerjaan harus ke Kupang. Berikut memerlukan biaya besar. Sehingga membuat orang jadi TKI tak berdokumen resmi semakin nekad saja," kataya.

Menanggapi permintaan masyarakat, Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat, mengatakan, keberangkatan TKI tak berdokumen resmi yang bekerja ke luar negeri memang menyengsarakan TKI bersangkutan. Bahkan rawan dijadikan obyek eksploitasi perdagangan manusia (human trafficking).

Karena itu guna meminimalisir hal tersebut, BNP2TKI menurut Jumuhur, merencanakan membuka dua kantor Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (P4TKI) di NTT. Yakni di Larantuka Kabupaten Flores Timur dan di Labuanbajo, Kabupaten Manggarai Barat. Rencananya kedua kantor sudah akan beroperasi pada tahun 2014 mendatang.

"Dengan dibukanya kantor P4TKI di Larantuka, diharapkan masyarakat di Kabupaten Flores Timur dan sekitarnya sudah bisa mengurus dokumen ketenagakerjaan secara resmi. Dan jangan ada lagi TKI tak berdokumen resmi yang nekad berangkat bekerja di luar negei," pinta Jumhur. (gir/jpnn/jmw)

Uskup Agung Ende, NTT Jadi Embrio Lomba Kitab Suci Keluarga Nasional

16.19

Uskup Agung Ende, NTT Jadi Embrio Lomba Kitab Suci Keluarga Nasional

Uskup Agung Ende  yang juga Delegatus Kitab Suci Konverensi Wali Gereja  Indonedsia (KWI) Mgr. Vinsensius Sensi Potokota, Pr mengatakan, lomba kitab suci keluarga antar keukupuan se Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menjadi embrio bagi terselenggaranya lomba serupa di tingkat nasional.


“Ketika  lomba ini digagas oleh para uskup se Nusa Tenggara  dan Kanwil Kementerian  Agama NTT, saya berpikir gagasan ini sangat tepat dan brilian serta perlu disambut dengan suka cita,” kata Uskup Sensi saat menutup rangkaian kegiatan tersebut di Gereja Santu Yoseph  Pekerja Penfui, Kota Kupang, Jumat (27/9).


Menurutnya, selaku Delegatus Kitab Suci, gagasan ini perlu dikembangkan ke tingkat yang lebih  tinggi dengan melibatkan semua keuskupan yang ada di Indonesia, sehingga karya kerasulan kitab suci bergema ke seantero negeri.


Selain itu, katanya, kita ingin kegiatan seperti ini harus bermula dari NTT, wilayah dengan  mayoritas penduduknya beragama Kristen. Kita ingin semuanya bermula dari NTT untuk Indonesia.


“Dengan lomba ini kita bukan unjuk kebolehan atau gagah-gagahan dan mengangkat keluarga  sebagai fokus dari  karya kerasulan kitab suci,” ujarnya.


Yang perlu disadari dalam kegiatan ini, sambungnya, bukan pemenang dan hadiah yang  menjadi perhatian utama tetapi, bagaimana menjadikan kegiatan ini sebagai proses pembelajaran
cinta kasih yang berakar pada Sabda Allah, proses menjadikan Sabda Allah sebagai pedoman  hidup, sehingga kita tidak marah dan kecewa jika belum meraih kemenangan.


“Kegiatan ini boleh selesai, tetapi tugas kerasulan kitab suci belum selesai. Sekembalinya peserta dari ajang ini, diharapkan dapat menjadi contoh dan teladan hidup dalam  hal kecintaan akan Sabda Allah di dalam kitab suci bagai sesamanya,” ingatnya.


Dia berpesan dan mengajak agar umat Katolik di NTT dapat menjadi kitab suci yang hidup, agar semakin banyak orang terinspirasi untuk juga  mencintai Sabda Allah dalam kehidupan keseharian di tengah masyarakat, dan menjadikan Kitab Suci sebagai bagian yang utuh dari kehidupannya

sumber : moral - politik

Berbicara Tentang Keberagaman Kita Perlu Belajar Pada NTT

21.31

Berbicara Tentang Keberagaman Kita Perlu Belajar Pada NTT

Dalam rangka memperingati hari perdamaian sedunia, sejumlah aktivis berkumpul di Gedung Mesuem Tsunami Banda Aceh. Kota serambi mekkah ini merupakan Provinsi keempat yang menyalakan obor perdamaian.

Daerah pertama dinyalakan obor tersebut yaitu di Nusa Tenggara Timur (NTT), Manado, Jogjakarta dan Aceh.

Pada acara peringatan hari perdamaian sedunia mengangkat tema Aceh Damai dalam Keberagaman yang menampilkan berbagai macam tarian khas daerah masing-masing. Dalam acara tersebut oleh pejabat pemerintah Aceh dan Kota Banda Aceh, perwakilan dari Kementerian Sosial RI, Muhammad Syafei Nasutian.

Muhammad Syafei Nasution yang bertugas menyerahkan obor perdamaian pada peserta pawai keliling Banda Aceh. Kemudian obor perdamaian tersebut akan dibawa keliling ke seluruh Aceh.

Selain itu, warga Thionghoa menampilkan Barongsai yang memukau pengunjung di museum Tsunami. Setelah itu ada tarian khas Aceh, Ranup Lampuan, tarian Kipas, dan tarian khas Papua juga ditampilkan anak-anak muda Papua yang ikut hadir langsung pada acara tersebut.

Ketua Perkumpulan Hakka Aceh, tempat bernaung seluruh warga Thionghoa, Kokishong yang akrab disapa Oki menyebutkan, perdamaian hal yang terpenting untuk menyelesaikan persoalan.

"Obor perdamaian ini untuk merangkul perbedaan untuk menuju sebuah perdamaian, bila terjadi perbedaan, kita penting menyelesaikannya dengan dialog, bukan dengan kekerasan," kata Oki kepada merdeka.com, Minggu (22/9).

Oki bahkan meminta Aceh untuk mencontoh seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bisa hidup berdampingan dengan berbagai etnis dan beragam Agama. "Kita perlu belajar banyak dari NTT yang menerima keberagaman dan didukung penuh oleh pemerintah setempat," katanya.

Sementara itu, Ellisa Wahid, anak mantan Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid mengatakan, Indonesia dibangun di atas keberagaman, kalau tidak ada keberagaman, maka tidak ada Indonesia ini.

"Indonesia itu sendiri ide persatuan, karena keberagaman, maka ada Indonesia, tetapi untuk tercapai keberagaman itu, maka yang dibutuhkan adalah perdamaian untuk bisa mencapai masyarakat adil makmur dan sentosa," tutupnya.

sumber : merdeka

Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur hadiri prosesi pemakaman Mama Dona

11.14
bupati dan wakil bupati flores timur hadiri pemakaman mama dona

Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur hadiri prosesi pemakaman Mama Dona


Permaisuri Kerajaaan Larantuka, Dona Martina Kinena Ximenes da Silva Diaz Viera de Godinho/DVG dimakamkan,  Kamis (19/9/2013) setelah meninggal dunia,    Senin (16/9/2013) sekitar pukul 08.00 Wita, di kediamanya Istana Raja Larantuka, Kelurahan Pohon Siri, Kecamatan Larantuka.
Prosesi pemakaman yang dihadiri ribuan pelayat berlangsung panjang mulai dari Kapela Tuan Ma, Kapela Tuan Ana hingga ke Gereja Katedral.

Mama Dona yang lahir pada 6 Juli 1920 atau meninggal dalam usia  93 tahun,  itu merupakan istri Raja Larantuka yang terakhir,  Don Lorenzo III DVG atau Raja Nua Usi yang memerintah kerajaan Larantuka tahun 1937-1962. Ia adalah anak dari Raja Sikka, Don Thomas Ximenes da Silva. Ia memiliki 10 orang anak, diantaranya lima anak perempuan dan lima anak laki-laki.

Hadir pada prosesi pemakaman itu, Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, Wakil Bupati, Valentinus Sama Tukan, para pejabat Pemkab Flotim, Uskup, para imam dan semua unsur rohaniwan serta tokoh adat setempat. Hadir anak-anak Mama Dona yang sehari-hari selalu setia mendampinginya.

Bahkan sebelum dilakukan ibadah gereja, masyarakat Larantuka mengikuti misa di Istana Raja dan prosesi adat untuk mengenang almarhuma yang sangat berjasa dalam proses pembangunan di Kabupaten Flotim.
Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin kepada wartawan mengatakan, turut berbelasungkawa atas meninggalnya mama Dona. "Mama Dona adalah istri raja dari raja terakhir di Larantuka. Selama hidupnya ia dan keluarganya sangat berperan  dalam membangun daerah ini. Dan, sangat terasa ketika prosesi Semana Santa di Larantuka,"kata Yosni begitu Bupati Flotim disapa.

Yosni  mengatakan, Mama Dona adalah sosok perempuan ulet yang selalu setia hadir dalam sejumlah event yang digelar pemerintah. Bahkan, pada acara perarakan  lima abad Tuan Ma, kehadiran Mama Dona membawa arti penting bagi daerah. Dan, merupakan tonggak sejarah bangkitnya pariwisata rohani dalam prosesi Semana Santa

sumber : pos kupang

Mama Dona DVG Wafat di Istana Raja Larantuka

11.40
Mama Dona DVG Wafat di Istana Raja Larantuka, informasi berita larantuka


Mama Dona DVG Wafat di Istana Raja Larantuka

Permaisuri Kerajaan Larantuka, Dona Martina Kinena Ximenes da Silva Diaz Viera de Godinho/DVG yang biasa disapa Mama Dona DVG, wafat hari Senin (16/09/2013) pukul 08.25 wita di kediamannya di istana kerajaan Larantuka, kelurahan Pohon Sirih, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur. 

Informasi yang diperoleh floresbangkit.com dari pihak keluarga istana menyebutkan, meninggalnya Mama Dona karena usia yang sudah melebihi 93 tahun. Menurut cucu Almahrumah, Don Erwyn A DVG, Mama Dona lahir  tanggal 6 Juli  1920. Mama Dona merupakan isteri dari Raja Larantuka terakhir Don Lorenzo III DVG atau Raja Nua Usi  yang memerintah kerajaan Larantuka tahun 1937-1962. Mama Dona juga adalah anak dari raja Sikka-Maumere Don Thomas Ximenes da Silva

Menurut Erwin, Almahrumah akan dimakamkan di perkuburan umum di Lokea, Larantuka, Kamis (19/09/2013) setelah misa di gereja Katedral Larantuka jam 10.00 wita. Masyarakat diberikan kesempatan melayat dan mengikuti misa di istana dari Senin (16/09/2013) hingga Rabu (18/09/2013) pukul 19.00 wita.

Peran Kerajaan Tetap Terjaga

Dalam tradisi masyarakat Larantuka dan sekitarnya, peran raja Larantuka tetap dihormati hingga saat ini, walaupun bentuk pemerintahan kabupaten lebih dominan.  Peran raja Larantuka sangat terasa saat perayaan Semana Santa di Larantuka.

Meninggalnya Raja Don Lorenzo menyebabkan Mama Dona mewakili  kerajaaan dalam setiap acara yang melibatkan pihak istana didampingi anak – anaknya.

”Saya sudah banyak lupa soal devosi Semana Santa, tetapi yang dapat saya ingat tiap tahun (saat hari Kamis Putih) saya selalu masuk lebih dulu di Kapela Tuan Ma, begitu pula untuk memanjatkan doa di sana,” kata Mama Dona,  suatu waktu.

Dalam keseharian, Mama Dona yang dikaruniai 10 orang anak ( 5 laki – laki dan 5 perempuan ) ini,  berdiam di istana kerajaan yang biasa disebut Istana Ile Mandiri. Mama Dona tinggal di rumah utama yang beratapkan asbes dan berlantai semen. Di sekitar istana ada enam meriam peninggalan tempo dulu.

”Sebenarnya, anak-anak (raja) ingin melakukan pengubahan seperti lantai dengan keramik, tetapi Mama minta tetap dibiarkan dalam kondisi seperti aslinya,” kata salah seorang menantu Raja Don Lorenzo III DVG, Fransiskus Fernandez (67),  seperti dikatakan kepada Arbain Rambey dan Samuel Oktora dari Kompas

Kepergian Mama Dona menjadikan masyarakat Flores Timur kehilangan sosok yang menjadi panutan.

sumber : floresbangkit

Pejabat di Pemkot Kupang Diduga Lakukan Pelecehan Seks ke Staf

03.41
pelejehan seksual pejabat kupang
contoh - Gambar


Pejabat di Pemkot Kupang Diduga Lakukan Pelecehan Seks ke Staf

Larantuka - Seperti yang di kutip dari Pos Kupang,- Lagi lagi pelecehan seksual di lakukan oleh para Pejawabat daerah, kali ini terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur,- Salah satu kepala dinas di lingkup Pemerintah Kota Kupang, Ga diduga melakukan pelecehan terhadap salah satu staf, Kinanti (bukan nama sebenarnya).
Akibat perbuatan tidak menyenangkan tersebut, pejabat tersebut langsung diamankan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kota Kupang.
Peristiwa tersebut terjadi pukul 10.00 Wita, saat semua pegawai sedang melakukan kegiatan Jumat Bersih.
Sekda Kota Kupang, Bernabas Benu, SH, MH,  yang mendengar adanya informasi tersebut langsung turun ke lokasi bersama Sat Pol PP Kota Kupang untuk mengamankan oknum pejabat tersebut.
Benu yang ditemui di Kantor Bappeda Kota Kupang usai rapat awal tentang KUA PPS, Jumat (13/9/2013), mengatakan,
sudah mendapatkan laporan dan melalui Walikota Kupang sudah memerintahkan Inspektorat untuk melakukan pemeriksaan atau BAP.
Dari hasil pemeriksaan Inspektorat sehingga tahu persis kronologis peristiwanya. Sehingga, katanya, langkah atau keputusan yang diambil oleh Wali Kota sebagai pimpinan wilayah terhadap kadis ini bisa dilakukan dengan tegas berdasarkan kronologis.

Wacana Pembentukan Provinsi Flores

00.28
provinsi flores, p4f, panitia pembentukan provinsi flores

Wacana Pembentukan Provinsi Flores

Larantuka - wacana pembentukan provinsi flores terus, merebak dan menjadi perbincangan di kalangan masyarakat NTT, wacana pembentukan provinsi flores ini dulu perna menjadi topik pembicaraan, namun mental di telan waktu, kini wacana itu mencul lagi, sebagian orang merasah lelah dengan pembicaraan ini, dan menyakini ini akan kembali hilang bersama bergulirnya waktu

Namun dari pihak yang menamakan diri P4F  ( Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Flores ) menyatakan bahwa perjuangan ini tidak akan hilang, pejuangan ini akan terus dan terus berkobar, terbukti dari sembilan kabupaten yang berada dan masuk dalam pembentukan flores timur ini, menyatakan diri begabung dan mendukung gerakan ini, ke sembilan kabupaten itu adalah

1.         Kabupaten Manggarai Barat
2.         Kabupaten Manggarai
3.         Kabupaten Manggarai Timur
4.         Kabupaten Ngada
5.         Kabupaten Nagekeo
6.         Kabupaten Ende
7.         Kabupaten Sikka
8.         Kabupaten Flores Timur

9.         Kabupaten Lembata


Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya pun mendukung perjuangan rakyat flores ini, selanjutnya ini akan di serahkan ke masyarakat flores sendiri, bagaimana menanggapinya dan memperjuangkannya

sember : ronaldtwain.com

Korinus Masneno menempati urutan tertinggi dalam perolehan suara

02.53
hasil hitungan cepat pemilukada kupang


Ayub Titu Eki - Korinus Masneno 
menempati urutan tertinggi dalam perolehan suara 
Pemilukada Kab.Kupang


Larantuka - Pemilukada ( pemilihan kepala daerah ) kabupaten kupang yang di gelar tanggal 5 september 2013 di kabupaten kupang nusa tenggara timur ( NTT ) dengan tujuh pasangan yang bertarung dalam pemilihan calon bupati dan wakil bupati

Hasil penghitungan cepat ini di laporkan langsung oleh ketua panitia pemungutan suara ( KPPS ) dari berbagai desa dari 193.337 pemilih yang tersebar dari 177 di 24 kecamatan di 275 TPS ( Tempat Pemungutan Suara ), hasil menunjukan pasangan Ayub Titu Eki – Korinus Masneno menempati urutan tertinggi dengan perolehan suara 7.899 suara

Sail Komodo Asah Nasionalisme Pelajar NTT

00.24

Sail Komodo Asah Nasionalisme Pelajar NTT

Larantuka - Sail Komodo 2013 tak hanya dimaksudkan untuk menggalakkan pariwisata dan memajukan perekonomian daerah-daerah kepulauan di Nusa Tenggara Timur. Kegiatan itu sekaligus menjadi ajang untuk memupuk rasa nasionalisme.

Menurut Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) Sail Komodo 2013, Kolonel Marinir Bambang Hullianto, guna memupuk jiwa nasionalisme putra-putri generasi bangsa, Unsur Tugas Pelayanan Masyarakat (U.T. Yanmas) yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Operasi Bhakti Surya Bhaskara Jaya LXII/2013, menggelar program penyuluhan Bela Negara bidang potensi maritim dan hukum serta bahaya narkoba kepada siswa-siswi SD, SMP, dan SMA, di SD Inpres Waikomo, Kecamatan Nubatukan, Lembata, NTT.

"Masyarakat Kabupaten Lembata adalah warga trans lokal eks pengungsi Timor Timur dan korban kerusuhan Ambon. Dalam kerangka memperkokoh NKRI, Satgas Operasi Bhakti Surya Bhaskara Jaya LXII/2013, menggelar program penyuluhan Bela Negara, Potensi Maritim dan Hukum serta bahaya Narkoba di Nubatukan dan Lembada, NTT," kata Bambang Hullianto, melalui rilisnya, Rabu (4/9).

Materi penyuluhan bidang hukum di antaranya tentang perdagangan manusia (trafficking) dan bahaya narkoba. Pematerinya, Kapten Laut (KH) Mas Iyan Diana D SH,  mengupas tentang kejahatan perdagangan manusia dengan modus memanfaatkan tenaga kerja dari daerah yang kurang berpengalaman.

"Melalui penyuluhan ini diharapkan menambah wawasan bagi remaja dan masyarakat Lembata agar tidak menjadi korban pelaku trafficking,"  ujar Mas Iyan di hadapan peserta penyuluhan.

Sedangkan sesi penyuluhan bahaya narkoba disampaikan oleh Kapten Laut (K) Mawar dari unsur tugas Pelayanan Kesehatan (Yankes). Dokter Angkatan Laut. Mawar memaparkan dampak pemakaian narkoba bagi kesehatan tubuh, termasuk potensi penularan  HIV/AIDS melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian.

Menurut Bambang, minat generasi muda di Lembata akan pendidikan sangat tinggi. Sebab, banyak di antara mereka yang melanjutkan jenjang pendidikan tingginya hingga ke luar daerah seperti di Jakarta, Surabaya dan Makassar.

"Sedangkan bagi mereka yang tidak mampu melanjutkan jenjang pendidikan, merantau mencari nafkah ke kota, dengan harapan meningkatkan ekonomi keluarga lebih baik," ungkap Bambang.

sumber : jpnn

perwakilan masyarakat dari Ikatan Keluarga Wilayah Hinga mendatangi Kontras

14.48

perwakilan masyarakat dari Ikatan Keluarga Wilayah Hinga mendatangi Kontras

Larntuka - Berlarutnya penyelesaian konflik Redontena – Adobala, di Kecamatan Kelubagolit, Kabupaten Flores Timur, NTT, menyebabkan perwakilan masyarakat dari Ikatan Keluarga Wilayah Hinga (IKWH) di Jakarta dan sekitarnya, mendatangi Kantor Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras),  Jakarta Pusat, Senin (2/9/2013). Kedatangan ini bertujuan agar Kontras dapat ikut serta memantau proses penegakan hukum dalam  penyelesaian konflik Redontena- Adobala

Dalam kesempatan dialog antara perwakilan IKWH dengan Kontras, Ketua IKHW Umar Ulin Lega, SH memaparkan kronologis konflik tanah antara kedua desa tersebut dan menjelaskan proses hukum yang sudah berlangsung sejak 1964.

“Setelah melalui berbagai proses pengadilan, dan perang tanding 1982, kondisi dan suasana mulai tenang. Namun setelah 30 tahun kemudian tepatnya, 20 Desember 2012, mulai lagi terjadi konflik,” urai Umar Ulin.

Umar Ulin juga menilai bahwa pemerintah daerah Flores Timur tidak mampu mengatasi konflik kedua desa tersebut. Demikian juga Polres Flores Timur dinilai tidak melakukan apa-apa untuk keamanan dan terkesan terjadi pembiaran.

“Kondisi keamanan sampai saat ini masih jauh dari harapan mengingat pihak keamananan tidak melakukan pengusutan terhadap pelaku dan otak dibalik konflik tersebut,” katanya.

Menurut Umar Ulin, konflik Redontena-Adobala hanya dapat terselesaikan atau diminimalkan serta dibatasi, jika penegakan hukum dijalankan sebagaimana mestinya.

“Apapun penyelesaian sangketa tanah, penengakan hukum harus memberikan kepuasan bagi korban dan membawa efek jerah bagi pelaku,”jelas Umar Ulin.

Umar Ulin berharap pemerintah kabupaten Flores Timur dan pemerintah provinsi NTT dapat ikut serta memberikan kejelasan pemahaman  atas proses dan putusan pengadilan kepada masyarakat.

Umar Ulin berharap, Polres Flores Timur, dapat menempatkan aparat keamanan di lokasi, mengusut tuntas tindakan provokasi dan pengerahan masa, dan melakukan sterilisasi diri dari oknum internal di kepolisian  yang dinilai mempunyai interes dengan pihak yang berkonflik. Polres juga diminta memberi laporan dana penanganan konflik secara transparan dan akuntabel kepada publik.

Wakil Kordinator Kontras, Sri Suparyanti,SH,LLM,  berjanji akan mempelajari kronologi kejadian termasuk putusan pengadilan dan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk penyelesaian konflik Redontena-Adobala. “Kami akan ikut serta mengawal proses hukum yang sedang berlangsung,” ujar Sri Suparyanti.

sumber : fbc

Larantuka tak banyak berubah

04.09
Larantuka tak banyak berubah

Larantuka tak banyak berubah

Larantuka - Kota Larantuka, kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur tidak jauh berbeda, tidak ada perubahan dari masa ke masa, kota itu seperti kota tuah yang berbalut debu, yang tersisah hanyalah kenangan yang datang dan menghampiri keindahan dari sentuhan seni dan alam yang kian terintiminasi dengan peradapan yang kian tak beradap, Suasana alam pantai yang duluh indah dan menjadi tempat melebur rasa lelah dan penat kini berubah menjadi lautan sampah, entalah siapa yang memulainya, ini benar benar menyesakan dada ( percaya tidak percaya dulu setiap pulang sekolah, saya pasti kepantai hanya sekedar memancing, sekarang mana bisa memancing, tak ada seekor ikan pun di sana, yang ada hanyalah tumpukan sampah )

Perna terlintas dalam pikiran, sebenarnya apa yang di lakukan sang penguasa daerah, apakah mereka hanya bekerja untuk menghabiskan waktu mereka, atau bekerja hanya untuk mendapatkan upah saja..? atau mereka bekerja untuk kemajuan Larantuka,- kemajuan lewo tana
Tentu saja jika kita menanyakan ini kepada sang penguasa maka akan keluar sebuah lembaran panjang daftar kegiatan dan kemajuan mereka yang tak bisa terlihat melalui mata

Sudah sepuluh tahun berlalu, kota Larantuka hanya mampu menambah satu kemajuannya yang bisa saya lihat dengan mata, Taman Kota
Taman kota yang di bangun oleh Bupati Flores Timur waktu itu Bapak Felix Fernandes, dan Pemandian air panas yang kini tinggal kenangan

Sebenarnya apa pentingnya kemajuan di atas kertas, jika masyarakat sendiri tidak menikmatinya..? perna saya bertanya tentang hal ini ke salah satu rekan saya yang tentunya berasal dari Larantuka juga, dia pun menjawab " Biar Tuhan yang menjawabnya, intinya tora bisa makan dan tidur itu sudah sangat cukup "

Sastrawan Gerson Poyk perintis Kesusastraan NTT

Add Comment
00.21
Sastrawan Gerson Poyk perintis Kesusastraan NTT, berita nusa tenggara timur, berita terbaru nusa tenggara timur

Sastrawan Gerson Poyk perintis Kesusastraan NTT

Larantuka - Sastrawan Gerson Poyk dapat dijuluki sebagai perintis Kesusastraan NTT. Karya pertama Gerson dan dimuat di majalah Sastra pada bulan Juni 1961 dalam bentuk cerpen adalah Mutiara di Tengah Sawah

Yohanes Sehandi, Dosen Universitas Flores dalam makalahnya berjudul Sastra dan Sastrawan dari Masa ke Masa dalam temu sastrawan asal NTT di Kupang, Sabtu (31/8) mengatakan, cerpen Mutiara di Tengah Sawah ditetapkan sebagai cerpen terbaik pada tahun 1961 oleh majalah Sastra. Tahun pemuatan cerpen karya Gerson Poyk ini juga disebut sebagai tahun lahirnya sastra NTT.

Dikatakannya, sastra NTT lahir pada saat orang NTT pertama kali menulis dan mempublikasikan karya sastranya kepada masyarakat umum.”Setelah melalui proses penelusuran yang panjang terhadap sejumlah data dan informasi, orang NTT pertama yang menulis dan mempublikasikan karya sastranya kepada masyarakat umum adalah Gerson Poyk,”kata Suhandi.

Dia menambahkan, Gerson Poyk juga adalah sastrawan NTT yang paling produktif dan berkarya sastra selama 52 tahun terus menerus sampai dengan tahun 2013 . “Beliau telah menerbitkan buku novel dan kumpulan cerpen sebanyak 27 judul. Penerbit Nusa Ende, Flores merupakan penerbit yang sangat berjasa dalam perjalanan karier sastrawan Gerson Poyk,”katanya.

Kemudian, kata Suhandi, orang NTT pertama yang menulis puisi dan mempublikasikan untuk masyarakat umum adalah Dami N. Toda. Judul puisi pertama yang dipublikasikan pada tahun 1969 adalah “Sesando Negeri Savana.” Karya sastra jenis puisi itu dimuat di majalah Sastra edisi Juli 1969.

Menurut Suhandi, hingga usia Nusa Tenggara Timur yang ke-52 tahun 2013 ini sudah sebanyak 104 judul buku sastra yang dipersembahkan  sastrawan- sastrawan  asal NTT. “Karya anak-anak NTT itu terdiri dari 45 judul buku novel, 26 judul buku kumpulan cerpen, dan 33 judul buku kumpulan puisi,” jelasnya.

Dalam temu sastrawan NTT pertama itu, Sehandi menawarkan sejumlah agenda penelitian sastra dan sastrawan NTT ke depan untuk menggeluti dunia sastra NTT secara lebih intens dan komprehensif.

Gerson Poyk yang  juga hadir pada kesempatan itu mengatakan, Mary Low Wang, warga negara Amerika kelahiran Semarang telah banyak menerjemahkan novel dan cerpennya. Salah satu karya yang diterjemahkan adalah Kain Tenun yang menceritakan seorang ibu di Lembata yang menunggu kedatangan suaminya dari laut. Mary mengatakan Darah Timor menjadi bacaan wajib di Quensland, Australia.

sumber : floresbangkit

Pihak keluarga korban nekat menyewa pesawat Susi Air untuk mencari para korban

Add Comment
23.53
Pihak keluarga korban nekat menyewa pesawat Susi Air  untuk mencari para korban, berita daerah ntt, berita daerah larantuka flores timur

Pihak keluarga korban nekat menyewa pesawat Susi Air 
untuk mencari para korban

Larantuka - Keluarga korban akhirnya memilih jalan keluar dengan cara menyewa salah satu armada penerbangan yakni pesawat susi air untuk mencari empat korban yang tenggelam pada, Minggu (25/8/2013) lalu di selat Pukuafu, antara Pulau Timor dan Rote. ini di karenakan tidak ada tanda tanda akan di temukannya kempat korban yang masih keluarga itu oleh pihak SAR Kpang dan TNI AL

Empat penumpang perahu yang hilang itu diantaranya Morgan Fiah, Paulus Fiah, Lot Bela dan Iku Muti.  Hingga saat ini pihak Tim SAR Kupang, dan TNI-Angkatan Laut yang didukung dengan perahu nelayan lainnya belum juga menemuklan empat korban tersebut.


“Pesawat mengangkut delapan orang dan pencarian dilakukan antara 2-3 jam,” kata Kepala SAR Kupang, I Ketut Gede Ardana, kepada Moral-politik.com, Sabtu (31/8/2013).

Sebelumnya diberitakan, empat penumpang yang menjadi korban tenggelamnya perahu di Selat Pukuafu, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), sampai Rabu (28/8) pagi, belum ditemukan. Perahu motor tersebut tenggelam, Minggu (25/8) antara Pulau Semau dan Pulau Kambing. Sebelum tenggelam, perahu sedang dalam pelayaran dari Pelabuhan Rakyat Namosain Kupang tujuan Nemberala di pesisir selatan Pulau Rote.

Kepala Search And Rescue (SAR) Kupang I Ketut Gede Ardana mengatakan, pencarian korban masih berlangsung, namun belum ada tanda-tanda mereka ditemukan.

“Kami mencari hingga 50 mil tapi belum menemukan mereka,” katanya.

Pencarian juga dilakukan oleh nelayan bersama aparat Kepolisian dan TNI Angkatan Laut dari Pulau Rote, namun hasilnya masih nihil.

Gede Ardana mengatakan perahu yang tenggelam tersebut hanya memiliki panjang delapan meter dan lebar 2,5 meter. Perahu tersebut biasanya mengangkut ikan dari Pulau Rote untuk dijual di Kupang.

sumber: moral-politik

Tenun Ikat Flores (Keragaman Corak dan Ragam Hias)

4 Comments
05.35
Tenun Ikat Flores (Keragaman Corak dan Ragam Hias), larantuka, flores, flores timur, adonara, tenun ikat flores


Tenun Ikat Flores (Keragaman Corak dan Ragam Hias)

Larantuka - PULAU FLORES merupakan bagian dari kelompok pulau-pulau Nusa Tenggara Timur, dan
mendapat banyak pengaruh dari pulau-pulau sekitarnya. Pengaruh-pengaruh tersebut
memperkaya budaya suku-suku di Flores yang jumlahnya mencapai hampir tiga puluh suku.
Setiap suku 'mempunyai bahasa dan dialeknya sendiri.
Di bagian barat pulau Flores tinggal orang Manggarai, di bagian tengah tinggal orang Ngada, Riung, dan Nage Keo, sedangkan di
bagian timur berdiam orang Ende, Lio, Sikka, dan Larantuka. Sebagian besar masyarakat
Flores hidup dari bercocok tanam dan berternak kerbau dan kuda. Kedua jenis hewan tersebut
dipergunakan sebagai alat pembayaran mas kawin. Dan pada umumnya kuda juga berfungsi
sebagai alat transportasi. Kepandaian menenun ini diwariskan secara turun-temurun, dan telah
dipelajari sejak mereka masih kecil. Salah satu tradisi para wanita penenun yang menarik yaitu
kebiasaan memakan sirih dilakukan wanita Flores, khususnya penenun, di sepanjang hari saat
bekerja. Jenis-jenis kain tenun yang dihasilkan adalah selendang lebar yang berfungsi sebagai
selimut bagi laki-laki dan sarung untuk wanita. Selimut atau selendang juga digunakan sebagai
penutup jenazah. Selain sebagai selimut dan pakaian yang dijual bebas di pasaran, kain tenun
ikat juga digunakan sebagai perlengkapan upacara adat sebagai pakaian adat, pakaian
upacara, dan mas kawin.

Beragamnya fungsi dan banyaknya permintaan kain tenun ikat, membawa banyak perubahan
dalam proses pembuatannya. Selain digunakannya pewarna sintetis, kini benang rayon juga
digunakan sebagai bahan baku kain tenun ikat. Meskipun demikian, kain tenun ikat yang
dicelup dengan pewarna alami dan menggunakan bahan baku tradisional yaitu benang dari
kapas, juga masih ada.

Tenun ikat Flores dibuat dengan bahan dasar benang dari kapas yang dipilin oleh penenunnya
sendiri. Benangnya kasar dan dicelup warna biru indigo. Kain dihiasi dengan ragam hias bentuk
geometris aneka warna yang cerah dan menyolok. Kain tenun dari daerah Manggarai banyak
menggunakan warna kuning keemasan, merah, dan hijau.

Pembuatan desain kain tenun ikat di Flores dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi.
Pekerjaan ini dapat berlangsung selama berminggu-¬minggu, bahkan kadang-kadang sampai
berbulan-bulan. Seringkali pencelupan dikerjakan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung,
meskipun kadang-kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung. Ketika
kerajaan-kerajaan kecil di Flores masih ada, sejumlah orang bekerja khusus sebagai pembuat
kain-kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana. Jika dahulu ada pembedaan
pakaian adat berdasarkan status sosial (golongan bangsawan atau rakyat jelata), maka masa
sekarang tidak lagi. Sekarang kain-kain tenun dibuat untuk dijual ke pasaran lalu dijual lagi
kepada mereka yang membutuhkannya. Pesanan dengan kualitas khusus masih dilayani
dengan harga khusus pula.

Beberapa daerah yang menghasilkan kain-kain tenun adalah Manggarai, Ngada, Nage Keo,
Ende, hingga sekitar Lio, Sikka, dan Lembata di bagian timur Flores.


Di daerah-daerah tersebut, seperti di wilayah Nusa Tenggara Timur lainnya, benang yang diikat
adalah benang lungsi.
Manggarai dan Ngada

Di daerah Manggarai ada teknik lain pembuatan ikat, yaitu menggunakan lidi-lidi pengungkit
dalam proses penenunan untuk menghasilkan pakan tenun songket tambahan. Di daerah
Ngada, Flores Tengah, juga terdapat kain tenun songket warna kuning emas sebagai pengganti
songket benang emas. Kain-kain tenun songket Flores di atas latar tenunan benang kapas ini
mempunyai banyak persamaan dengan kain-kain songket dari Sumbawa. Menurut tinjauan
sejarah wilayah sebelah barat Flores dulu merupakan daerah kekuasaan kerajaan
Bima-Sumbawa yang memiliki kain-kain tenun songket benang emas dan perak untuk kalangan
raja-raja Bima. Hal ini membawa pengaruh yang cukup kuat di daerah sebelah barat Flores,
sehingga mereka pun mempunyai tradisi membuat kain tenun songket walaupun tidak
menggunakan benang emas dan benang perak.

Selain kain songket, masyarakat Ngada juga membuat kain tenun ikat. Tenun ikat yang mereka
buat menggunakan warna-warna gelap, antara lain dengan kombinasi warna biru dan cokelat,
dengan garis-garis sederhana. Sedangkan suku Nage Keo menghasilkan tenunan yang
menampilkan motif bintik-bintik kecil dari teknik ikat pembentuk motif floral. Jalur ikat ini
dikombinasikan dengan jalur-jalur kecil lain berwarna putih, merah, dan biru polos.
Seperti halnya kain sarung, pada kain songket juga ada pembagian desain kain antara lain
adalah yang disebut bagian kepala yang diletakkan di bagian tengah dan yang disebut badan
yang diletakkan di belakang kain lainnya. Pembagian desain songket dari Manggarai dan
Ngada ini juga membentuk bagian badan dan kepala, dengan motif yang berbeda di kedua
bagian tersebut. Saat dikenakan, bagian kepala biasanya diletakkan di bagian depan dan
bagian badan diletakkan di belakang. Di Flores, kain tenun biasanya dikenakan hingga setinggi
dada. Dalam perkembangannya, mereka menggunakan kebaya yang pemakaiannya
dimasukkan dalam sarung. Cara memakai kain sarung seperti ini hampir sama dengan cara
wanita Bugis dan Makasar di Sulawesi Selatan, atau Kaili dan Donggala di Sulawesi Tengah.
Sikka

Pada mulanya kain adat Flores untuk wanita berbentuk sarung setinggi dada dan dilipat di
bagian depan. Di bagian pinggang pemakai dikenakan ikat pinggang dari perak. Mereka tidak
menggunakan kebaya atau blus. Namun kini ada variasi lain dari cara pemakaian kain sarung,
di mana lipatan kain sarung diikat di salah satu bahu sehingga agak terangkat ke atas pada
salah satu sisinya.

Cara pemakaian kain di Flores ada bermacam-macam. Lain daerah atau suku, bisa berbeda
pula cara pemakaiannya. Perempuan suku Sikka di Maumere, Kabupaten Sikka, menggunakan
kain sarung sebatas pinggang yang disebut utan, yang dipadukan dengan baju kebaya yang
disebut labu, yang modelnya mirip kebaya Maluku. Utan dengan ragam hias yang diberi warna
gelap atau hitam disebut utan welak. Paduan kain dan labu ini masih dirasa kurang bila tidak
menggunakan selendang yang disebut dong. Penampilan kaum perempuan ini masih
dilengkapi tusuk konde dari emas atau perak yang tinggi berbentuk bunga, yang disebut bunga


Hiasan tusuk konde serupa ini dipakai juga dalam pakaian adat Ende.
Kaum pria suku Sikka memakai kemeja yang juga disebut kebaya labu dan celana panjang. Di
luar celana mereka mengenakan sarung yang disebut lipa atau utan yaitu jenis kain sarung
orang Sikka yang berwarna biru tua atau biru hitam dihiasi dengan jalur-jalur biru muda atau
biru toska. Mereka pun mengenakan selendang lebar yang disampirkan di bahu sampai dada
yang disebut lensu sembar. Sebagai penutup kepala para laki-laki biasanya menggunakan
destar. Destar mereka kadang-kadang justru terbuat dari bahan batik Jawa. Selain itu ada hal
lain yang khas dalam pakaian adat Sikka, kain tenun warna hitam atau gelap hanya dipakai
oleh mereka yang telah berumur, sedangkan kaum muda memakai kain tenun dengan warna
terang dan menyolok.

GENERAL PRODUCT KNOWLEDGE OF IKAT SIKKA-FLORES
Kebiasaan masyarakat Sikka dalam kesehariannya dan tiap ceremony adat atau agama, selalu
memakai kain tenun atau sarung adat. Sebutan U’tang Sikka untuk sarung perempuan dan lipa
Sikka atau ragi Sikka untuk sarung laki-laki.

Jenis motif dan warna serta desain unsur tertentu masih harus dibagi lagi untuk peruntukan si
pemakai dari strata apa, usia, jenis kelamin, untuk kegiatan apa, dan kapan waktu dipakai.
Jenis tenunan tsb terdiri dari: Kain tenun ikat, Kain tenun prenggi, Kain tenun liin, Kain tenun
neleng, Kain tenun itor. Jenis kain adat artinya full motif yang “rich” terdiri dari hurang kelang (
jalur-jalur ikat dan non ikat) dan bermutu tinggi karena mempunyai nilai filosofi / pesan khusus
dan prosesnya dengan upacara khusus dalam hampir tiap tahapan prosesnya. Lapisan-lapisan
bagian motif yang disebut sebagai satu-kesatuan hurang kelang yang terdapat dalam suatu
unsur kain tenun atau sarung berbeda tergantung pada jenis motifnya. Motif teridentifikasi pada
bagian ina gete (main motif) yang merupakan nama dari motif kain tsb.

Proses pembuatannya juga sangat rumit dan butuh ketelitian tinggi dalam menuangkan
imajinasi karena desain suatu motif tanpa digambarkan terlebih dahulu dalam suatu pola tetapi
secara langsung dituangkan secara imajinatif yang akan terbentuk suatu pola motif yang dituju.
Pewarna yang digunakan pun tergantung dari dominansi tumbuhan yang tumbuh sebagai
habitat di daerah tersebut. Proses pewarnaan merupakan unsur seni dalam memadukan
kombinasi warna yang sudah secara lasim dihasilkan. Ada yang warna tunggal dan warna
kombinasi bersusun. Paduan warna ada yang double color, yang tentu saja pengerjaannya pun
makin rumit dan proses yang lama juga ada upacara khusus dan ada pantangan-pantangan
tertentu agar hasilnya sempurna.

Ada kain tenun yang proses penembakan pakannya menggunakan benang pakan yang sudah
terbentuk motifnya, maka harus tepat penempatan motifnya secara langsung saat ditenun.
Karena pakan jenis ini sudah melalui proses ikat pada pakan bukan diikat pada benang lungsi.


Jenis ini hanya seniwati penenun yang daya imajinasinya tinggi.
Juga ada kain tenun yang pembentukan motifnya tanpa ikat tapi langsung dengan permainan
unsur pakan selama menenun. Pembentukan motifnya secara langsung saat menenun. Jenis
ini juga hanya penenun dengan ketrampilan tinggi.
Ada juga kombinasi permainana warna spiral pada benang pakan yang menggunakan alat
pintal, sehingga mutu kain yang dihasilkan bisa terbentuk modifikasi warna/i dan tekstur yang
menarik.
Pekerjaan budaya tenun ini dilakukan perempuan Sikka hampir di tiap rumah tangga yang
masih memegang unsur budaya adat yang diteruskan secara turun-temurun dari nenek ke ibu,
dan dari ibu ke anak, dan dari anak ke cucu, dst. Semasa sebelum menjelang millennium,
biasanya ibu yang mengajarkan putrinya (biasanya yang tinggal di desa) menggunakan cara
pemaksaan untuk menenun agar juga bisa sebagai parameter untuk bisa menikah, karena
secara adat perempuanlah yang memberikan tenunan-tenunan yang bermutu bagi calon
suaminya. Mutu dari kain tenun yang diberikan akan digantikan juga dengan emas Sikka yang
disebut tibu, suatu bentuk khas emas Sikka.
Daerah Lio
Salah satu daerah di Flores bagian timur yang cukup menonjol dalam pembuatan kain tenun
ikatnya adalah daerah Lio. Ragam hias kain tenun ikat dari daerah ini diilhami oleh kain patola
India berupa motif ceplok seperti jelamprang pada kain batik. Selain motif ceplok, kain dari Lio
ini juga dihiasi dengan motif daun, dahan, dan ranting. Kain patola diperkenalkan oleh para
pedagang dari Portugis, yang pada abad keenam belas mengadakan perdagangan dan
pertukaran kain patola dengan rempah-rempah dari nusantara bagian timur, termasuk di Flores.
Bangsa Portugis, dan bangsa-bangsa Eropa lain (Belanda dan Jerman) meninggalkan
pengaruh yang begitu besar, terutama karena banyaknya misionaris yang menyebarluaskan
agama Kristen Protestan dan Katholik. Hingga saat ini agama Kristen banyak penganutnya di
Flores.
Kain tenun ikat dengan motif patola mempunyai nilai tinggi. Oleh karena itu, daerah-daerah
tenun di wilayah Nusa Tenggara Timur memiliki motif-motif patola yang diperuntukkan khusus
bagi kalangan raja-raja, pejabat, dan tokoh adat yang jumlahnya terbatas. Kain tenun Lio
dengan ragam hias patola ini juga hanya dipergunakan di kalangan keluarga kepala adat atau
pendiri kampung yang disebut musalaki. Bahkan kain ini dianggap sangat istimewa hingga ikut
dikuburkan bersama jenazah seorang bangsawan atau raja. Selain itu kain patola dari Lio yang
panjangnya sampai empat meter, yang disebut katipa, digunakan sebagai penutup jenazah.
Menurut P. Sareng Orinbao dalam bukunya Seni Tenun Suatu Segi Keburinycum Orang Flores,

kata katipa sendiri mempunyai arti yang sama dengan patola, karena berasal dari lafal
penyebutan tipa tola. Ciri khas motif tenun Lio yang lain adalah ukurannya kecil dengan bentuk
geometris, manusia, biawak, dan lain-lain, yang disusun membentuk jalur-jalur kecil berwarna
merah atau biru di atas dasar warna gelap.
Kain tenun Lio ini juga diberi hiasan tambahan atau aplikasi dengan manik-manik dan kulit
kerang. Pakaian dengan hiasan khusus ini hanya dipergunakan dalam upacara-upacara adat
tertentu. Di Pulau Sumba, kain sarung yang diberi hiasan manik-manik seperti itu hanya dipakai
oleh wanita kalangan bangsawan saja.
Selain terkenal dengan tenunannya, Lio juga penghasil kerajinan tembikar berupa kebutuhan
rumah tangga khususnya peralatan dapur yang terbuat dari tanah liat. Ada suatu kesamaan
ragam hias pada kain tenun ikat dan barang tembikar yaitu goresan garis-garis geometris
seperti bentuk meander, kait, belah ketupat, tumpal, dan lainnya, yang sering terdapat pada
ragam hias ikat pada kain tenun dan anyaman.
Kain sarung Lio
Tenun ikat dari Lio menunjukkan kemahiran tenun dengan motif ikat yang halus dan rumit.
Ragam hias pada kain dari daerah Lio menunjukkan banyaknya pengaruh kain patola dalam
pembuatannya, seperti pada kain sarung ini. Kain ini dibuat dengan latar warna cokelat tua,
diberi ragam hias berwarna cokelat muda campur kuning bergaris geometris dalam bentuk
flora. Ragam hias dibagi dalam beberapa jalur. Jalur besar di tengah diapit jalur kecil dan di
kedua ujung kain terdapat jalur¬jalur motif flora sebagai hiasan ujung dan hiasan pinggir.
Kain sarung yang mempunyai dua latar/dasar warna, yaitu tiga bagian berlatar gelap (cokelat
hitam) dan satu bagian berlatar merah. Pada latar yang berwarna cokelat hitam dihiasi dengan
motif patola ceplok bunga bersudut delapan warna kuning. Pada latar kain berwarna merah
diberi ragam hias jalur-jalur yang diisi motif tumpal gaya pepohonan dan ranting-ranting serta
ragam hias geometris.
Daerah Ende
Hasil tenunan di daerah Ende bergaya Eropa. Lokasinya yang terletak di pesisir selatan Flores,
memungkinkan orang-orang
Ende berhubungan dengan bangsa pendatang seperti orang Eropa. Tenun Ende lebih banyak
menggunakan warna cokelat dan merah, dengan menggunakan ragam hias motif ala Eropa.
Salah satu ragam hias kain Ende yang berbeda dengan kain tenun daerah-daerah lain adalah
hanya menggunakan satu motif pada bidang tengah-tengah kain. Motif tersebut diulang-ulang
dan baru berhenti pada jalur pembatas bermotif sulur di kedua ujung kain yang menyerupai
tumpal dan diberi hiasan rumbai-rumbai. Jalur pembatas kain-kain tenun Flores pada umumnya
tidak hanya di kedua ujung kain, melainkan dapat dibuat di bagian tengah, samping, kedua
ujung, atau pinggir kain. Kain berlatar belakang hitam. Ragam hias pada kain ini ada pada
jalur-jalur horisontal yang memberi kesan seperti gemerlap cermin, yang diwujudkan dalam

pembiasan garis geometris. Kain ini terdiri dari dua helai yang digabung dengan jahitan tangan.
Pada jalur besar tampak motif ceplok bunga, yang diilhami oleh kain patola. Pengaruh kain
patola juga tampak pada adanya barisan tumpal.
Lembata
Selain Lio, daerah di Flores bagian timur yang terkenal dengan kain tenun ikatnya adalah
Lembata. Di daerah ini, khususnya daerah Lamalera menurut Ruth Barnes dalam tulisannya
The Bridewealth Cloth of Lamalera Lembata, disebutkan bahwa hanya kain sarung untuk
wanita yang memakai motif ikat yang disebut mofa. Kain sarung wanita itu sendiri disebut
kewatek. Kain sarung untuk laki-laki tidak memakai motif ikat. (Kain sarung untuk wanita
berfungsi sebagai pemberian dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki dalam upacara
perkawinan).

Ada dua jenis tenunan kain sarung ikat Lembata yaitu kewatek nai rua dan kewatek nai telo.
Kewatek nai rua adalah kain sarung yang tenunannya terdiri atas dua bagian kain yang
digabungkan. Kewatek nai telo adalah kain yang paling tinggi nilainya. Kain ini terdiri atas tiga
bagian yang disambungkan menjadi satu sarung.
Kain Sarung Lembata

Tenun Lembata mempunyai ciri khas dengan dua atau tiga sambungan. Kain ini dipergunakan
sebagai mas kawin dalam upacara perkawinan dari pihak keluarga perempuan, dan
dipertukarkan dengan gelang-gelang dari gading gajah yang sangat berharga yang diberikan
oleh keluarga pihak laki-laki. Semua jenis mas kawin ini merupakan warisan yang diberikan
turun-temurun. ( sumber : orangflores )

Tentang Kain Tenun Ikat adonara - flores timur

Tradisi pembuatan kain tenun ikat khususnya masyarakat Flores Timur dilakukan secara turun temurun, dari generasi ke generasi baik teknik pembuatannya maupun nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Bagi masyarakat di sana, kain tenun ikat bukan sekedar busana yang dikenakan sehari-hari, ataupun souvenir saja, namun juga berfungsi sebagai penanda identitas etnis, belis atau mahar perkawinan mereka. Dalam tradisi masyarakat di sana, pada saat pernikahan, seorang pria akan memberikan belis berupa gading gajah, sedangkan sebaliknya pihak perempuan akan menyerahkan selembar kain tenun ikat yang dibuat secara tradisional. Selain itu, fungsi kain tenun ikat juga sebagai bekal kubur yang disertakan pada seseorang yang meninggal dan dibawa ke liang lahat.

Tenun Ikat Flores (Keragaman Corak dan Ragam Hias)

Wisata Air Panas Larantuka Tak Terurus

Add Comment
12.41
wisata alam larantuka, pemandian air panas, air panas, wai pelati, larantuka, flores timur, pariwisata flores timur
Pemandangan di air panas - nusa nipa photography
Wisata Air Panas Larantuka Tak Terurus

Larantuka -Salah satu tempat wisata yang cukup populer di Kabupaten Flores Timur, Larantuka adalah Air Panas, atau dalam kesehariannya di sebut Wai Pelati
Air Panas atau wai pelati yang dulu sempat menjadi tempat yang tervaforit di larantuka ini kini hanyalah sebuah bangun tua yang usang dan di huni ratusan lebah, sungguh sangat memprihatinkan salah satu aset wisata ini terbuang percuma

wisata alam larantuka, pemandian air panas, air panas, wai pelati, larantuka, flores timur, pariwisata flores timur
Pemandangan di air panas - nusa nipa photography
Padahal aset wisata alam, air panas ini jika bisa di kembangkan menjadi tempat pemandian air panas, mungkin sangat akan berdampak positip untuk perkembangan pariwisata di kabupaten flores timur, selain memliki sumber mata air panas yang cukup memadai, di lokasi air panas yang berdekatan dengan pantai ini menyajikan pemandangan tepi laut yang begitu memposona

Anda akan merasah di sajikan suatu keindahan dunia yang berbeda dari yang lain, suatu ke indahan yang menentramkan hati anda, jika anda berkesempatan datang ke flores timur terkususnya kota larantuka anda boleh ke tempat ini, air panas atau wai pelati dan membuktikan sendiri kebenaran tentang apa saya katakan

Rokatenda gunung berapi aktif di Lingkar Cincin Api

Add Comment
20.55
Rokatenda gunung berapi aktif di Lingkar Cincin Api, informasi berita terkini, larantuka, sikka, gunung berapi flores, rokatenda meletus, korban gunung meletus, korban meletusnya rokatenda

Rokatenda gunung berapi aktif di Lingkar Cincin Api

Larantuka - Kantor berita ANTARA mengutip warga di pulau tersebut mengatakan letusan dan semburan abu vulkanik dahsyat yang disertai gempa bumi terjadi sekitar jam satu malam. Akibat letusan dan semburan itu, beberapa desa dihujani semburan kerikil dan abu vulkanik.

Gunung Rokatenda termasuk gunung berapi aktif di Lingkar Cincin Api, pegunungan berapi di Indonesia. Gunung ini terakhir kali meletus pada bulan Juni lalu.

Pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban letusan G. Rokatenda di Kab. Sikka, NTT masih terus dilakukan. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melaporkan data sementara korban enam tewas hingga sore ini.

Empat jenazah korban sudah ditemukan, yaitu  Aloysius Lala (65), Wea Lala (58), Petrus Ware (69) dan Aluysius (tidak diketahui usianya). Sementara korban yang masih dalam pencarian adalah Lengga (5) dan Pio (7). Mereka tersapu awan panas pada saat tidur di pantai Punge, Desa Rokirole.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, melaporkan, tinggi abu letusan fluktuatif antara 1.500 - 2.000 meter dari puncak Gunung Rokatenda. Letusan dengan suara keras juga disertai dengan semburan kerikil dan abu vulkanik serta gempa vulkanik.

"Masyarakat sekitar panik dan dilaporkan letusannya lebih besar daripada letusan sebelumnya," jelas Sutopo dalam pesan yang dikirimkan ke wartawan, Sabtu petang (10/8).

Hingga pukul 09.30 Wita masih terlihat awan panas guguran menuju arah utara. Arah luncuran awan panas tidak seperti biasanya yang mengarah ke arah selatan hingga ke pantai.

Awan panas mengalir dari Woje Wubi sampai pantai Cua. Terparah di Ko'a Desa Rokirole dan Nitunglea. Bupati Sikka bersama BPBD telah berada di lokasi dan melakukan penanganan darurat.

Status Gunung Rokatenda masih ditetapkan Siaga oleh PVMBG. Gunung Rokatenda meletus sejak Oktober 2012, abu letusan tersebar dalam pulau bergantung arah angin.

Saat Rokatenda dalam status siaga, masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 3 Km. Di Pulau Palue saat ini bermukim sekitar 10 ribu jiwa. Kondisi pulau tersebut berbahaya karena selalu terancam letusan Rokatenda. Ketersediaan air tanah sangat minim dan lahan pertanian kurang subur karena lapisan tanahnya tipis.

Akibat letusan Rokatenda sejak Oktober 2012, sebanyak 782 KK (2.754 jiwa) mengungsi keluar dari Pulau Palue ke Kabupaten Ende (407 KK) dan Sikka (375 KK). BNPB telah memberikan bantuan dana siap pakai Rp 14,7 miliar kepada Pemda Ende dan Pemda Sikka untuk relokasi dan hunian tetap pengungsi.

sumber: voaindonesia
>>
Langganan: Postingan (Atom)

Pembentukan Provinsi Flores

Entri Populer

  • Wisata Air Panas Larantuka Tak Terurus
    Pemandangan di air panas - nusa nipa photography Wisata Air Panas Larantuka Tak Terurus Larantuka - Salah satu tempat wisata yang ...
  • Semana Santa seharusnya lebih tertib lagi
    Semana Santa seharusnya lebih tertib lagi SEMANA SANTA Bukan merupakan  DEVOSI untuk memperingati sengsara yesus kristus wafat Tetap...
  • Larantuka Di kenal dengan sebutan Kota Reinha
    Larantuka adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, sekaligus sebagai ibukota dari Kabupaten ...

Label

  • Banten
  • BERITA
  • BOOKING PESAWAT DAN HOTEL
  • DAERAH
  • HEALTH
  • HP/KAMERA/LAPTOP
  • INTERNASIONAL
  • Jakarta
  • kupang
  • LARANTUKA
  • Lembata
  • manggarai barat
  • NASIONAL
  • ngada
  • ONLINE SHOP
  • OPINI
  • PAPIST
  • PARIWISATA
  • SEPAK BOLA
  • WISATA ALAM
  • WISATA ROHANI
| Copyright © 2014 : LARANTUKA | Design By : JMW, Published byJMW | Powered By : Blogger | Google | Alexa |